visitbelokpelaga
Gastronomi

Rasa dari Dapur Dataran Tinggi

8 hidangan dan jajanan tradisional dari Pelaga dan Belok/Sidan: dari olahan ayam dan ikan berbumbu base genep di warung-warung warga, hingga jajanan pasar manis yang masih dijual pagi hari.

Hidangan Utama

Menu Utama Khas Petang

Nasi bungkus daun pisang dengan suwiran Ayam Betutu berbumbu kuning, telur pindang, dan acar timun
Hidangan Utama

Ayam Betutu

Ikon Kuliner Bali yang Harus Kamu Tahu

Ayam Betutu merupakan salah satu makanan khas Bali yang terkenal karena cita rasa rempahnya yang kuat. Hidangan ini dibuat menggunakan ayam utuh yang dibumbui dengan base genep, yaitu campuran berbagai rempah khas Bali seperti kunyit, jahe, lengkuas, bawang merah, bawang putih, cabai, dan kemiri. Setelah dibumbui, ayam dibungkus daun pisang lalu dimasak dalam waktu yang lama hingga dagingnya empuk dan bumbu meresap sempurna.

Pada awalnya, Ayam Betutu disajikan dalam berbagai upacara adat dan keagamaan sebagai hidangan istimewa. Seiring berkembangnya pariwisata Bali, makanan ini semakin dikenal luas dan menjadi salah satu kuliner yang wajib dicoba oleh wisatawan. Proses memasaknya yang membutuhkan waktu berjam-jam menghasilkan aroma rempah yang khas dan tekstur daging yang sangat lembut.

Di kawasan Belok/Sidan dan Pelaga, Ayam Betutu sering disajikan sebagai menu utama di beberapa rumah makan yang menyuguhkan masakan khas Bali. Udara pegunungan yang sejuk membuat hidangan hangat ini semakin nikmat disantap bersama nasi putih, sambal matah, sayur urap, dan kuah khas Bali.

Berkunjung ke kawasan Jembatan Tukad Bangkung belum lengkap tanpa mencicipi Ayam Betutu yang dimasak menggunakan resep tradisional. Selain menikmati keindahan alam, wisatawan juga dapat merasakan kekayaan rempah dan budaya kuliner Bali yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Nasi dengan olahan ikan Mujair Nyat-Nyat berbumbu genep kehijauan dan acar timun pedasDetail olahan ikan Mujair Nyat-Nyat dengan bumbu genep yang meresap ke daging
Hidangan Utama

Mujair Nyat-Nyat

Perpaduan Ikan Mujair dan Bumbu Rempah yang Hangat

Di tengah udara sejuk pegunungan Desa Belok/Sidan dan Desa Pelaga, Kecamatan Petang, tersimpan salah satu hidangan yang patut dicoba oleh setiap pengunjung, yaitu Mujair Nyat-Nyat. Sajian ini dapat ditemukan di banyak warung makan, salah satunya adalah Warung Makan Summer Alam yang terletak di Desa Belok/Sidan, sebuah rumah makan yang menyajikan masakan rumahan khas Bali dengan pemandangan yang sangat memanjakan mata.

Mujair Nyat-Nyat merupakan olahan ikan mujair yang dimasak menggunakan base genep, yaitu bumbu dasar khas Bali yang terdiri atas berbagai rempah seperti bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit, jahe, lengkuas, kencur, serai, daun jeruk, dan terasi. Berbeda dengan ikan berkuah pada umumnya, proses memasak nyat-nyat menggunakan sedikit air sehingga selama pemasakan cairan akan menyusut dan menyisakan kuah yang kental serta bumbu yang meresap sempurna ke dalam daging ikan. Nama nyat-nyat sendiri merujuk pada teknik memasak hingga kuah hampir habis dan bumbu melekat pada bahan utama.

Saat disajikan, aroma rempah yang kuat langsung menggugah selera. Daging ikan mujair memiliki tekstur lembut dan tidak amis karena berpadu dengan bumbu yang kaya cita rasa. Perpaduan rasa gurih, pedas, sedikit manis, dan segar dari rempah-rempah menjadikan hidangan ini sangat nikmat disantap bersama nasi hangat. Tidak mengherankan apabila Mujair Nyat-Nyat dikenal sebagai salah satu ikon kuliner Bali yang mampu menggambarkan kekayaan rempah Nusantara.

Di Warung Makan Summer Alam, hidangan ini menjadi salah satu menu yang banyak dipilih pengunjung. Selain cita rasanya yang autentik, lokasi rumah makan yang berada di kawasan pegunungan Belok/Sidan menghadirkan pengalaman bersantap yang semakin berkesan. Udara sejuk dan pemandangan alam di sekitar kawasan Petang menjadikan menikmati seporsi Mujair Nyat-Nyat sebagai pengalaman kuliner sekaligus wisata yang sulit dilupakan.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Belok/Sidan dan Pelaga, mencicipi Mujair Nyat-Nyat di Warung Makan Summer Alam merupakan cara sederhana untuk mengenal kekayaan kuliner lokal. Hidangan ini tidak hanya menawarkan kelezatan, tetapi juga menjadi cerminan bagaimana masyarakat Bali memanfaatkan hasil perikanan air tawar dan meraciknya dengan rempah-rempah tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Tipat Cantok berupa ketupat dan tauge berbalut bumbu kacang gelap di atas piring hitamDetail Tipat Cantok dengan siraman bumbu kacang dan kecap manis
Hidangan Utama

Tipat Cantok

Hidangan Sederhana dari Ketupat, Sayur, dan Bumbu yang Medok

Tipat Cantok merupakan salah satu kuliner tradisional Bali yang terkenal dengan kesederhanaannya, tetapi memiliki cita rasa yang khas. Makanan ini terdiri atas tipat atau ketupat yang dipadukan dengan berbagai sayuran rebus, seperti kangkung, kacang panjang, tauge, dan bayam, kemudian disiram bumbu kacang yang diulek secara langsung. Perpaduan bahan-bahan tersebut menghasilkan sajian yang segar, gurih, sekaligus mengenyangkan sehingga cocok dinikmati kapan saja.

Nama cantok berasal dari proses mengulek bumbu menggunakan cobek hingga halus sebelum dicampurkan dengan ketupat dan sayuran. Berbeda dengan gado-gado atau pecel dari daerah lain, Tipat Cantok memiliki karakter bumbu yang lebih sederhana dengan sentuhan rasa khas Bali. Hidangan ini telah lama menjadi bagian dari kuliner masyarakat lokal dan banyak dijadikan menu sarapan maupun makan siang.

Di kawasan Desa Belok/Sidan dan Desa Pelaga, Tipat Cantok menjadi salah satu makanan yang mudah ditemukan di warung-warung tradisional. Udara pegunungan yang sejuk membuat sajian ini semakin nikmat disantap, terutama bersama segelas minuman hangat atau es khas Bali. Selain mengenyangkan, penggunaan sayuran segar dari hasil pertanian setempat juga menjadikan Tipat Cantok sebagai makanan yang sehat dan kaya gizi.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Jembatan Tukad Bangkung, Tipat Cantok dapat menjadi pilihan kuliner yang patut dicoba setelah menikmati panorama alam sekitar. Beberapa rumah makan dan warung lokal di sekitar Belok/Sidan dan Pelaga masih mempertahankan cita rasa tradisionalnya, sehingga pengunjung dapat merasakan pengalaman kuliner Bali yang autentik sekaligus mendukung usaha masyarakat setempat.

Seporsi Sam-Sam dengan sate daging babi bertusuk, lawar, dan nasi putih dalam bungkus kertas
Hidangan Utama

Sam-Sam

Kelezatan Daging Babi Khas Bali yang Penuh Bumbu dari Alam

Sam-sam merupakan hidangan khas Bali yang menggunakan bagian perut babi sebagai bahan utamanya. Bagian ini memiliki perpaduan antara daging dan lapisan lemak sehingga menghasilkan tekstur yang lembut dan cita rasa gurih. Daging dimasak menggunakan bumbu base genep hingga rempah-rempah meresap sempurna sebelum disajikan bersama nasi dan pelengkap lainnya.

Dalam tradisi kuliner Bali, olahan daging babi memiliki peranan penting, terutama pada acara adat maupun perayaan keluarga. Sam-sam menjadi salah satu menu favorit karena menawarkan tekstur yang empuk dengan aroma rempah yang khas. Penyajiannya sering dipadukan dengan lawar, sambal matah, serta kuah gurih yang semakin menambah kenikmatannya.

Di Desa Belok/Sidan dan Desa Pelaga, sam-sam dapat ditemukan di beberapa warung makan tradisional yang menyajikan masakan khas Bali. Penggunaan bumbu lokal dan teknik memasak tradisional membuat cita rasa sam-sam tetap terjaga serta menjadi salah satu daya tarik kuliner bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan pegunungan Badung.

Setelah menikmati pemandangan di sekitar Jembatan Tukad Bangkung, wisatawan dapat menikmati seporsi sam-sam hangat sebagai bagian dari pengalaman wisata kuliner. Hidangan ini tidak hanya menawarkan kelezatan, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya gastronomi masyarakat Bali.

Potongan Be Genyol berbumbu kuning kehijauan yang empuk di atas kertas bungkus
Hidangan Utama

Be Genyol

Kuliner Tradisional dengan Tekstur Empuk yang Menggugah Selera

Be Genyol merupakan salah satu kuliner khas Bali yang menggunakan daging babi sebagai bahan utama. Nama genyol merujuk pada tekstur daging yang lembut dan kenyal setelah dimasak dalam waktu yang cukup lama. Daging direbus bersama aneka rempah khas Bali hingga menghasilkan kuah gurih dengan aroma yang kaya.

Hidangan ini telah lama dikenal sebagai makanan tradisional masyarakat Bali dan umumnya disajikan sebagai menu sarapan maupun makan siang. Proses memasaknya yang perlahan membuat bumbu meresap sempurna ke dalam daging sehingga menghasilkan rasa yang gurih dan nikmat. Be Genyol biasanya dinikmati bersama nasi putih, sambal, dan sayuran sebagai pelengkap.

Di kawasan Belok/Sidan dan Pelaga, Be Genyol menjadi salah satu pilihan kuliner bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin menikmati masakan khas Bali. Penggunaan bahan-bahan segar dari peternak dan petani lokal memberikan cita rasa yang autentik sekaligus mendukung potensi pangan daerah setempat.

Bagi wisatawan yang singgah di kawasan Jembatan Tukad Bangkung, Be Genyol dapat menjadi pilihan hidangan untuk merasakan kekayaan kuliner tradisional Bali. Selain menyajikan rasa yang khas, makanan ini juga mencerminkan kearifan lokal dalam mengolah bahan pangan menjadi hidangan yang lezat dan bernilai budaya.

Jajanan Tradisional

Camilan Manis Pasar Pagi

Kue Lak-Lak hijau berbentuk bundar dengan taburan kelapa parut dan siraman gula merah cair
Jajanan Tradisional

Lak-Lak

Makanan Tradisional Khas Bali yang Manis dan Enak

Lak-Lak merupakan salah satu jajanan tradisional khas Bali yang telah dikenal sejak lama. Makanan ini memiliki cita rasa manis dan gurih yang berasal dari perpaduan adonan tepung beras, kelapa parut, dan gula merah cair. Hingga saat ini, Lak-Lak masih menjadi salah satu camilan favorit masyarakat Bali dan sering dijumpai di pasar tradisional maupun warung-warung kecil.

Lak-Lak dibuat dari tepung beras yang dicampur dengan air dan sedikit garam. Adonan kemudian dimasak menggunakan cetakan tanah liat berbentuk bulat kecil hingga matang. Beberapa penjual juga menambahkan daun suji atau pandan sehingga menghasilkan warna hijau alami yang menarik serta aroma yang harum.

Setelah matang, Lak-Lak disajikan dengan taburan kelapa parut yang telah dikukus dan sedikit garam agar terasa gurih. Sebagai pelengkap, makanan ini disiram dengan gula merah cair yang memberikan rasa manis khas. Perpaduan tekstur Lak-Lak yang lembut dengan kelapa parut dan gula merah menciptakan cita rasa yang sederhana namun sangat nikmat.

Selain rasanya yang lezat, Lak-Lak juga mencerminkan kekayaan kuliner tradisional Bali yang masih terus dilestarikan. Proses pembuatannya yang sederhana serta penggunaan bahan-bahan alami menjadikan makanan ini salah satu warisan kuliner yang patut dijaga. Lak-Lak juga sering disajikan sebagai teman minum teh atau kopi, baik saat sarapan maupun sebagai camilan di sore hari.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali, mencicipi Lak-Lak menjadi pengalaman kuliner yang tidak boleh dilewatkan. Makanan tradisional ini tidak hanya menawarkan rasa yang khas, tetapi juga memperkenalkan budaya dan tradisi masyarakat Bali melalui hidangan sederhana yang penuh makna.

Kue Lukis berbentuk lipatan segitiga dengan taburan kelapa parut dan gula merah cair di atas daun pisangDetail kue Lukis dengan siraman gula aren yang mengilapKue Lukis di atas daun pisang dari jarak dekat, dengan taburan kelapa parut dan siraman gula merah yang merata
Jajanan Tradisional

Lukis

Kue Tradisional Khas Bali yang Lembut dan Manis

Lukis merupakan salah satu jajanan tradisional khas Bali yang memiliki tekstur lembut dan cita rasa manis. Kue ini terbuat dari campuran tepung beras, santan, dan sedikit garam, kemudian dimasak hingga matang sebelum disajikan dengan taburan kelapa parut serta siraman gula merah cair. Perpaduan rasa gurih dari santan dan kelapa dengan manisnya gula merah menjadikan Lukis sebagai camilan yang digemari berbagai kalangan.

Keberadaan Lukis telah menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Bali sejak lama. Kue ini banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional dan sering disajikan sebagai hidangan pendamping saat berkumpul bersama keluarga maupun pada berbagai kegiatan adat. Cara pembuatannya yang masih mempertahankan resep turun-temurun menjadi salah satu alasan mengapa cita rasa Lukis tetap autentik hingga saat ini.

Di kawasan Desa Belok/Sidan dan Desa Pelaga, Lukis masih dapat ditemukan di beberapa warung tradisional maupun pedagang pasar pada pagi hari. Menggunakan santan segar dan gula aren lokal, Lukis memiliki rasa yang khas dengan tekstur yang lembut dan aroma yang harum. Hidangan sederhana ini menjadi bukti bahwa kuliner tradisional Bali mampu menghadirkan kenikmatan melalui bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar masyarakat.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Jembatan Tukad Bangkung, mencicipi Lukis dapat menjadi pilihan untuk mengenal jajanan tradisional Bali yang mulai jarang ditemukan di daerah perkotaan. Menikmati Lukis hangat di tengah udara sejuk pegunungan Belok/Pelaga akan memberikan pengalaman kuliner yang sederhana namun berkesan.

Rujak Gula Bali berupa potongan buah disiram bumbu gula aren, cabai, dan terasi di atas piring merahDetail potongan buah Rujak Gula Bali berbalut bumbu gula aren kental
Jajanan Tradisional

Rujak Gula Bali

Aneka Buah yang Disulap dengan Gula, Cabai, dan Terasi

Rujak Gula Bali merupakan salah satu kuliner tradisional yang menyajikan aneka buah segar dengan bumbu khas berbahan dasar gula aren Bali. Berbeda dengan rujak pada umumnya, bumbu rujak ini memadukan rasa manis, pedas, gurih, dan sedikit asam sehingga menghasilkan cita rasa yang seimbang. Buah-buahan seperti mangga muda, kedondong, bengkuang, nanas, dan jambu menjadi pilihan utama dalam sajian ini.

Rujak telah lama menjadi bagian dari budaya kuliner masyarakat Bali sebagai camilan yang menyegarkan, terutama pada siang hari. Penggunaan gula aren lokal memberikan aroma khas yang membedakannya dengan rujak dari daerah lain. Selain itu, buah-buahan yang digunakan umumnya berasal dari hasil pertanian masyarakat sekitar sehingga selalu segar dan mengikuti musim panen.

Di Desa Belok/Sidan dan Desa Pelaga yang terkenal sebagai kawasan pertanian dataran tinggi, ketersediaan buah-buahan segar menjadikan Rujak Gula Bali sebagai salah satu sajian yang banyak diminati. Perpaduan buah lokal dengan bumbu tradisional menciptakan rasa yang khas sekaligus mencerminkan kekayaan hasil alam daerah tersebut.

Setelah menikmati panorama alam di kawasan Jembatan Tukad Bangkung, Rujak Gula Bali menjadi pilihan camilan yang tepat untuk menyegarkan tubuh. Beberapa warung tradisional di sekitar kawasan tersebut masih menyajikan rujak dengan resep khas yang diwariskan secara turun-temurun, sehingga wisatawan dapat menikmati cita rasa Bali yang autentik.

Cari Warung & Kedainya di Peta

Sebagian besar hidangan ini ada di warung dan rumah makan warga. Lihat lokasinya langsung di peta kawasan Pelaga dan Belok/Sidan.